Java Fresh Jadi Motor Ekspor Buah Indonesia ke 25 Negara

Menurut data BPS, produksi buah Indonesia mencapai 28,24 juta ton pada 2023, dan per Maret 2024

Jakarta, Trivianews.id – Memiliki lebih dari 17 ribu pulau di sepanjang garis khatulistiwa dan cincin api Pasifik, Indonesia memiliki iklim tropis dan tanah vulkanik yang sangat subur untuk menumbuhkan berbagai jenis buah eksotis.

Menurut data BPS, produksi buah Indonesia mencapai 28,24 juta ton pada 2023, dan per Maret 2024, Indonesia tercatat sebagai produsen buah terbesar keenam di dunia. Meski begitu, masih banyak kebun tidak terkelola secara optimal, yang berdampak pada konsistensi kualitas di pasar ekspor.

Dari kondisi inilah Java Fresh lahir pada 2014, dengan tujuan membangun sistem yang menghubungkan petani kecil ke pasar global sekaligus membawa aktivitas ekonomi lebih dekat ke komunitas.

Co-Founder & CEO Java Fresh, Margareta Astaman mengatakan, selama lebih dari satu dekade berkiprah, Java Fresh tentu tidak bisa meraih pencapaian ini sendirian. Sepanjang perjalanannya, Java Fresh secara aktif menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari universitas dan lembaga riset hingga perusahaan, termasuk DBS Foundation bersama Bank DBS Indonesia.

“Pada tahun 2025 saja, kami berhasil mengekspor 300,000 ton buah segar,” ucapnya dalam keterangan resmi, Kamis (9/4/2026).

Margareta mengungkapkan, bahwa seiring waktu, terungkap bahwa ada empat tantangan utama industri agrikultur di Indonesia yang harus diatasi untuk benar-benar membawa buah Indonesia ke panggung global, di antaranya:

  1. Luas Lahan Petani

Mayoritas petani merupakan petani mikro dengan luas lahan rata-rata di bawah 0,5 hektar, sehingga produktivitas dan konsistensi pasokan sulit ditingkatkan.

  1. Reliabilitas & Sertifikasi

Tingginya standar kualitas, keamanan pangan, dan traceability di pasar internasional belum sepenuhnya diimbangi dengan akses dan pemahaman petani terhadap sertifikasi global.

  1. Keterbatasan Teknologi

Minimnya teknologi pra dan pascapanen membatasi umur simpan buah pada kisaran 14–18 hari, sehingga pengiriman masih bergantung pada jalur udara yang lebih mahal dan kurang kompetitif.

  1. Keterbatasan Pendanaan

Keterbatasan akses pembiayaan menghambat investasi pada peningkatan kebun, sertifikasi, dan adopsi teknologi, yang menurut studi Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) menjadi salah satu penghambat utama ekspor hortikultura Indonesia.

“Terjun di bisnis buah-buahan lokal membuat Java Fresh semakin menyadari bahwa produk petani Indonesia memiliki kualitas yang tak kalah saing dengan pasar global. Karena itu, kami menerapkan langkah-langkah strategis agar potensi ini bisa disalurkan seoptimal mungkin, mulai dari penerapan standar grading dan penanganan buah, pembangunan sistem ketertelusuran, hingga eksplorasi teknologi untuk memperpanjang umur simpan. Semua upaya ini bertujuan tidak hanya agar buah lokal tetap segar dan kompetitif, tetapi juga memberdayakan petani kecil dan membawa dampak positif bagi komunitas secara berkelanjutan,” jelas Margareta.

Apa upaya Java Fresh untuk membuka peluang bagi komunitas marjinal?

Java Fresh memiliki misi membuka akses pasar global bagi petani mikro, sebuah peluang yang sebelumnya sulit dijangkau. Selama ini, banyak petani dengan lahan kecil bergantung pada praktik ijon atau rantai distribusi panjang yang membuat nilai hasil panen mereka terbatas. Melalui pendekatan berbasis komunitas, Java Fresh menggandeng para petani kecil untuk mengelola kebun secara lebih terarah, mulai dari perawatan pohon, praktik panen yang tepat, hingga proses sorting dan standar grading internasional, agar mampu menghasilkan buah berkualitas ekspor.

Dengan akses pasar yang lebih luas, petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada jalur distribusi tradisional, sehingga memperoleh pendapatan yang lebih stabil dan bernilai tinggi, memperkuat ketahanan ekonomi sekaligus memungkinkan mereka terus berkembang di daerah asal tanpa harus terdorong melakukan urbanisasi.

Salah satu momen paling berkesan adalah melihat dampak nyata yang sederhana namun berarti bagi petani dan pekerja. Perubahan ini terlihat dari kisah Bu Edah yang kini memiliki penghasilan lebih baik dan berhasil menyekolahkan anaknya hingga S2, setelah sebelumnya menghadapi keterbatasan akses ekonomi. Para petani binaan Java Fresh juga berhasil menabung dan membangun rumah lebih layak untuk keluarganya.