ACEH, Trivianews.id-Di tengah kondisi serba terbatas pascabanjir, banyak keluarga di Batang Ara menjadikan susu kental manis sebagai minuman utama anak-anak. Kondisi inilah yang mendorong Pimpinan Pusat Aisyiyah bersama mitra turun langsung memberikan edukasi gizi kepada masyarakat terdampak.
Lima bulan berlalu, desa yang berada di tengah-tengah kebun sawit ini kembali berbenah. Sebagian ada yang memilih menetap di hunian sementara (huntara), sebagian kembali ke Batang Ara dan sedikit demi sedikit membangun gubuk seadanya untuk tempat tinggal. Alasannya sederhana, sebab di sanalah mata pencaharian mereka, petani sawit.
Amril, datuk alias kepala desa Batang Ara adalah satu yang memilih kembali. Berbekal kayu-kayu yang hanyut dan bahan bangunan seadanya, ia membangun pondok di tengah kebun sawit, tak jauh dari rumah lamanya berdiri. Dalam kegiatan edukasi gizi yang digelar PP Aisyiyah bersama mitra, Amril kembali menelusuri ingatannya.
“Rumah lama di sana, hanyut sudah,” ujarnya menunjuk satu lokasi yang kini menjadi timbunan barang-barang terbawa arus banjir. Rumah yang kini ia tempati bersama sang istri berukuran hanya sekitar 12 meter, terdiri dari ruangan untuk menggelar kasur lipat dan satu sudut dapur. Kamar mandi dengan penutup terpal seadanya ada di samping rumah.
Gampong Batang Ara kini mulai berangsur kondusif meski jejak lumpur masih membekas di berbagai titik. Reruntuhan rumah dan bangunan, serta tumpukan perabotan yang tersapu banjir, masih terlihat di hampir setiap sudut desa. Sebagian besar relawan telah kembali, namun beberapa tenda milik Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) masih berdiri di lokasi.
Ketersediaan air perlahan membaik. Air dari sumur bor sudah dapat digunakan meski masih keruh dan berlumpur. Sementara itu, untuk kebutuhan konsumsi, warga mengandalkan air galon isi ulang yang didatangkan dari luar Batang Ara.
Untuk kebutuhan harian, masyarakat masih mengandalkan bantuan dan donasi yang sudah mulai menipis. “Di sini kami cuma bisa mengandalkan sawit, karena memang sebagian besar masyarakat kerja di kebun sawit. Tapi karena bencana ini, tanaman sawit harus diperbarui dulu, setelah 3-4 tahun lagi baru bisa panen,” jelas Amril.
Oleh karena itu, berbekal modal dan kenalan di luar desanya, Amril aktif mengupayakan bantuan-bantuan yang sifatnya berkelanjutan, yang dapat menggerakkan ekonomi masyarakat. “Saya bukannya menolak donasi, tapi kedepannya, kalau ada yang mau membantu gampoeng kami ini, saya harap bantuan yang bisa membuat kami berdaya ekonomi lagi. Misalnya bibit ayam, bebek atau bahkan pelatihan-pelatihan yang mengajarkan masyarakat menghasilkan peluang usaha,” ujar Amril.
Amril sendiri mengaku sudah beberapa kali membeli bibit sayuran, kemudian ditanam menggunakan polybag di sekitar rumahnya. Tapi begitu tanaman tersebut tumbuh, sudah keduluan disantap oleh sapi yang berkeliaran lepas di lingkungan sekitar. “Itulah saya belum ketemu solusinya,” ujar Amril terkekeh.
Data desa mencatat, sedikitnya 177 kepala keluarga dengan total sekitar 600 jiwa termasuk 51 balita dan puluhan anak sekolah masih membutuhkan perhatian serius.
Menghidupkan Harapan Lewat Edukasi Gizi
Semangat Amril untuk membangun kembali desanya ternyata juga menulari sang istri, Rahayu. Meski masih trauma akan bencana air bah tersebut, ia berusaha tegar dan tetap mendukung upaya-upaya yang dilakukan suaminya, salah satunya adalah edukasi gizi yang diikuti oleh puluhan ibu dan anak-anak, warga Gampong Batang Ara.
“Saya berterimakasih dan senang sekali kampung kami ini dipilih jadi tempat kegiatan edukasi. Sejak bencana, jarang sekali ada kegiatan seperti ini, edukasi dan juga sekaligus menghibur anak-anak. Menyadari di luar sana masih banyak saudara-saudara yang peduli dengan kami, ini adalah dukungan yang sangat berarti bagi kami,” ujar Rahayu terbata.
Kegetiran dalam suaranya bukan berlebihan. Sebab sejak bencana terjadi, ia banyak melihat kondisi masyarakat yang membutuhkan bantuan tapi ia sendiri memiliki kemampuan yang terbatas. Ia bahkan menyebut ada yang depresi karena masih tidak percaya rumah dan harta bendanya lenyap, berbulan-bulan tidak mau mandi dan sekarang seperti orang bingung.
“Ada anak yang seharusnya masih ASI, tapi ibunya stress mungkin, ASI jadi tidak ada. Susu pun tak ada, jadinya dikasih air tajin. Ada yang sampai muntah-muntah karena diberi minuman seadanya, harusnya minum susu tapi malah minum air lain,” jelas Rahayu. Ia juga tak menyangkal bahwa anak-anak akhirnya mengonsumsi makanan dan minuman instan yang diperoleh dari bantuan bencana, termasuk kental manis yang akhirnya jadi minuman susu anak dan balita.
Karena itu, ia berharap pemerintah dapat memberi perhatian terhadap lingkungannya. “Mungkin infrastruktur susah, tapi untuk anak-anak, saya berharap diberi perhatian lebih,” ujarnya.
Di tengah kondisi itulah Majelis Kesehatan (Makes) PP Aisyiyah, Muhammadiyah beserta mitranya Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) dan Rangkul Foundation yang digagas oleh Zaskia Adya Mecca hadir memberi edukasi dan trauma healing serta penyaluran bantuan untuk masyarakat. Sebanyak 390 paket bantuan juga disalurkan kepada masyarakat Gampong Batang Ara yang terdiri dari paket untuk anak dan balita, paket ibu dan balita, paket sembako dan kebutuhan rumah tangga, permainan edukasi anak serta bantuan fasilitas umum dan alat kesehatan untuk puskesmas.
Anggota Majelis Kesehatan PP Aisyiyah Hirfa Turrahmi yang hadir dalam kesempatan itu menekankan setelah fase tanggap darurat, perhatian perlu diarahkan pada kualitas konsumsi masyarakat, terutama anak-anak.
“Selama bencana, masyarakat terbiasa dengan makanan instan. Sekarang kita ajak kembali ke pola makan gizi seimbang, termasuk meluruskan pemahaman bahwa kental manis itu bukan susu,” ucap Hirfah.
Menurutnya, edukasi ini penting agar masyarakat memahami mana asupan yang baik untuk anak anak. Sebab, di saat bencana tiba, makanan instan seperti mie instan dan kental manis kerap diberikan dengan alasan praktis dan darurat, padahal memiliki dampak yang buruk kepada anak.
Senada dengan Hirfah, Penyuluh Kesehatan Puskesmas Sekerak, Aceh Tamiang, Ersyad menegaskan susu kental manis tidak dapat diberikan kepada anak apalagi jika diseduh bagaikan susu. Kandungan gulanya yang tinggi menjadi penyebabnya.
Seperti diketahui, kental manis mengandung sekitar 40–50 persen gula dari total komposisinya, sementara kandungan proteinnya hanya berkisar 7–10 persen. Komposisi ini menunjukkan bahwa kental manis tidak dirancang sebagai sumber gizi sepertinsusu, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan nutrisi anak.
“Kental manis itu bukan susu, jadi tidak bisa dijadikan sumber utama gizi anak. Konsumsinya harus dibatasi agar tidak berdampak pada kesehatan,” ungkap Ersyad.









