PARARA Mini Festival Membuka Akses ke Pasar Lebih Luas. Dok. PARARA
Jakarta, Trivianews.id-Distribusi dan pemasaran masih menjadi tantangan bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Hal itu diungkapkan Rudi Pandu Wibowo, salah satu petani organik dari Gede Salak Pangrango (GSP), dalam konferensi pers yang diselenggarakan Konsorsium PARARA pada 8 September 2025, di bilangan Kemang, Jakarta Selatan.
Ia mengakui, sejumlah program CSR yang menyasar masyarakat memang berdampak positif. Namun pada umumnya, setelah program-program tersebut berakhir, akses terhadap pasar kembali menurun. “Salah satu tantangan utama petani organik adalah distribusi dan pemasaran. Setelah program CSR berakhir, banyak petani kehilangan akses pasar,” ujarnya.
PARARA, menurut Rudi adalah salah satu terobosan positif, di mana komunitas ini mampu tetap menjaga akses terhadap pasar meskipun program-program CSR telah berakhir. Dengan menjadi mitra PARARA, Rudi telah merasakan dukungan nyata agar produk sayur, telur, beras, dan hasil organik lainnya tetap bisa dipasarkan dengan harga stabil. Petani merasa terbantu, konsumen pun mendapat pangan sehat dan berkualitas dengan harga yang kompetitif. Ini membuat rantai pasok lebih adil dan berkelanjutan,” jelasnya.
Senada dengan itu, Beni Heryana dari Bakoel Singkong yang turut hadir menyebutkan potensi singkong sebagai pangan masa depan. “Singkong itu lebih sehat, mudah dibudidayakan, dan bisa diolah modern. Dengan branding yang tepat, produk lokal bisa bersaing dengan pangan impor,” ujarnya.
Konsorsium PARARA adalah gabungan 32 organisasi dari sektor perempuan, pertanian, perikanan, kehutanan, serta masyarakat sipil dan aktivis yang bertujuan mempromosikan dan memperluas pemasaran produk pangan lokal yang adil dan lestari, mendorong perdagangan adil (fair trade), serta memengaruhi kebijakan ekonomi agar lebih berwawasan lingkungan, budaya, dan sosial. Nama PARARA sendiri merupakan akronim untuk Panen Raya Nusantara.
Dalam rangka memberikan ruang bagi para mitra untuk memperluas pasar, Konsorsium PARARA setiap dua tahun sekali menyelenggarakan Festival PARARA, wadah bagi para UMKM, masyarakat adat dan komunitas dapat berjejaring sekaligus mempromosikan produknya. Tahun ini, Festival PARARA digelar dalam bentuk PARARA Mini Festival , yang dikemas dengan atraktif dan kekinian agar juga dapat mengenalkan produk lokal dan tradisi nusantara kepada generasi muda.
dok. PARARA
Salah satu yang nantinya akan menjadi daya tarik adalah Chef Laode. Jebolan Master Chef ini nantinya akan demo memasak salah satu menu berbahan pangan lokal, yang tentunya akan menjadi daya tarik bagi pengunjung. Selain itu, juga aka nada fashion show dari LaSalle College Jakarta yang akan membawakan karya-karya dengan sentuhan kain tradisi nusantara.
Shinta Lidwina Djiwatampu BS, M.Ds, LaSalle College Jakarta mengatakan PARARA Mini Festival 2025 ini adalah kesempatan untuk mengenalkan kain tenun daerah kepada lebih banyak masyarakat, karena masih banyak tenun daerah yang belum mendapat perhatian.
“Kain kiboki belum mendapat banyak perhatian. Karena itu kami ingin menampilkan karya-karya fashion yang memanfaatkan tenun tradisional dengan sentuhan desain kontemporer. Bahan-bahan kami beli langsung dari pengrajin dengan harga pantas, sebagai bentuk penghargaan terhadap usaha masyarakat adat. Dengan begitu, fashion tidak hanya menjadi karya estetis, tetapi juga sarana mendukung ekonomi lokal dan menjaga warisan budaya,” jelas Shinta Lidwina.
PARARA Mini Festival 2025 bukan hanya sekadar pameran, melainkan ruang literasi, apresiasi, dan perayaan. Festival ini diharapkan dapat menumbuhkan kebanggaan terhadap kekayaan pangan dan budaya nusantara, sekaligus memperkuat solidaritas antar-generasi dalam mencintai produk lokal. (KUR)