Series Tante Sonya Mulai Produksi, Hadirkan Drama Romantis Antara Maxime Bouttier dan Raihaanun

Setiap tokoh memiliki versinya tersendiri yang akan membuat penonton nantinya semakin penasaran

Jakarta, Trivianews.id – WeTV Indonesia bersama rumah produksi RAPI Films secara resmi memulai proses produksi serial orisinal terbaru berjudul WeTV Original Tante Sonya yang merupakan adaptasi modern dari film legendaris era 90-an, “Catatan Harian Tante Sonya”.

Serial drama romantis sebanyak 10 episode ini akan berfokus pada Sonya (Raihaanun), seorang wanita karier sukses berusia 42 tahun, yang dipertemukan kembali oleh takdir dengan Ben (Maxime Bouttier), pemuda berusia 28 tahun yang pernah hadir di masa lalunya.

Dengan sentuhan yang lebih dewasa dan relevan, serial ini tidak hanya akan membawa penonton bernostalgia dengan IP legendarisnya, tetapi juga mengajak audiens menyelami kompleksitas romansa yang berani menantang norma sosial dan stigma.

Raihaanun berbagi pengalamannya dalam mendalami peran yang pernah sukses di era 90-an ini. Sejak mendapat penawaran serial ini, Ia sudah penasaran dengan ceritanya.

Saya mendalami dialognya dan mencoba memahami karakter Sonya yang, seperti kebanyakan perempuan lainnya, memiliki banyak rasa insecure. Dialog-dialog itulah yang membuat saya semakin ingin memerankan karakter tersebut,” ungkapnya dalam Konferensi Pers di Jakarta, Selasa (8/4/2026).

Sementara itu, Maxime Bouttier yang memerankan karakter Ben mengungkapkan rasa bangganya bisa terlibat dalam proyek adaptasi IP besar ini.

“Menurut saya serial kali ini berbeda. Ini merupakan sudut pandang dengan perspektif Ben saat melihat Sonya. Biasanya sudut pandang diambil dari sosok perempuan ke laki-laki yang lebih tua. Perspektif baru itulah yang membuat saya tertarik dengan serial ini,” ujar Maxime.

Executive Producer & Country Head WeTV Indonesia, Febriamy Hutapea, mengatakan bahwa serial dengan genre age gap adalah salah satu yang sangat disukai penonton. “WeTV sudah memproduksi lebih dari 50 original series. Berdasarkan data tersebut, kami melihat genre age gap adalah salah satu yang memiliki performance menonjol,” terangnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa jika pada umumnya tema age gap menampilkan karakter laki-laki yang berusia lebih tua, maka dalam WeTV Original Tante Sonya justru sebaliknya.

“Perempuan yang mulai berumur sering kali merasa insecure, ragu, dan tidak pantas jatuh cinta lagi karena usianya serta trauma cinta di masa lalu. Cerita ini mengingatkan kita bahwa perempuan boleh jatuh cinta lagi, bahagia lagi, bahkan diperjuangkan oleh laki-laki yang lebih muda,” ujar Febriamy.

Produser RAPI Films, Sunil Samtani, menyatakan bahwa proyek ini merupakan kolaborasi perdana antara WeTV dan RAPI Films. “Kolaborasi pertama ini sebenarnya bukan sebuah remake, melainkan pembuatan ulang cerita Tante Sonya agar menjadi lebih relate dengan situasi saat ini,” ujar Sunil Samtani.