Jakarta, Trivianews.id – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria meninjau langsung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Grab–OVO melalui kunjungan ke sekolah penerima manfaat, mitra UMKM yang terlibat, serta operasional Command Center MBG sebagai pusat pemantauan berbasis AI (Artificial Intelligence – Kecerdasan Buatan), Selasa (14/4/2026).
Peninjauan ini menyoroti peran teknologi dalam mendukung tata kelola program yang lebih akuntabel, aman, dan terukur dari hulu ke hilir.
Grab–OVO menghadirkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Swasta sebagai inisiatif tanggung jawab sosial (CSR) sektor swasta yang sejalan dengan arahan Presiden Prabowo untuk mendorong keterlibatan dunia usaha dalam mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis sebagai salah satu program strategis nasional.
Inisiatif ini menjadi contoh bagaimana sektor swasta dapat berkontribusi secara terukur dan akuntabel dalam mendukung agenda pembangunan pemerintah.
Seluruh pendanaan Program MBG Swasta sepenuhnya berasal dari dana CSR Grab–OVO serta dukungan berbagai mitra swasta yang bersifat non-profit. Program ini dirancang sebagai model kontribusi sektor swasta yang melengkapi pelaksanaan MBG oleh pemerintah, dengan fokus pada keamanan pangan, tata kelola yang akuntabel, serta dampak sosial dan ekonomi yang berkelanjutan.
Dalam implementasinya, program MBG Swasta dijalankan melalui kolaborasi lintas organisasi dan pemangku kepentingan. Grab–OVO telah bekerja sama dengan berbagai organisasi dan yayasan, antara lain PP Muhammadiyah, Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (GKMNU), Yayasan Inklusi Pelita Bangsa (YIPB), Yayasan Benih Baik, Baja Perkasa Sentosa (Artha Graha Peduli Group), Yayasan Astra, GK Foundation, serta mitra lainnya. Program ini juga telah dilaporkan dan dikunjungi oleh sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Menteri Koordinator Bidang Pangan, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, Gubernur Banten, serta sejumlah kepala daerah dan pejabat kementerian terkait lainnya.
Nezar Patria mengatakan, pemanfaatan teknologi harus diarahkan untuk menjawab kebutuhan publik secara nyata. Dalam program seperti MBG, teknologi berperan penting bukan hanya untuk meningkatkan efisiensi, tetapi juga untuk memperkuat pengawasan, akuntabilitas, keamanan proses, serta mitigasi risiko secara lebih dini.
“Dari peninjauan di sekolah, mitra UMKM, hingga Command Center MBG, terlihat bahwa transformasi digital dapat mendukung tata kelola program yang lebih terukur, transparan, dan terpercaya,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (16/4/2026).
Pengawasan manual memiliki keterbatasan dalam menangkap dinamika operasional di lapangan. Melalui pemanfaatan teknologi dan pemantauan terpusat, program ini menghadirkan standar keamanan pangan yang lebih konsisten dan transparan. Dengan memanfaatkan ekosistem digital Grab–OVO, termasuk sistem monitoring, audit fisik, serta pemantauan terpusat melalui Command Center, program ini memperkuat tata kelola dan standar keamanan makanan secara menyeluruh.
Chief of Public Affairs, Grab Indonesia, Tirza Munusamy, mengatakan, bagi pihaknya, keamanan pangan bukan sekadar standar, tapi soal tanggung jawab terhadap masa depan anak-anak.
“Sebagai inisiatif CSR yang dijalankan oleh sektor swasta, tanggung jawab kami bukan hanya memastikan makanan tersalurkan, tetapi juga memastikan prosesnya aman, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Melalui pemanfaatan teknologi, kami ingin memastikan setiap makanan yang sampai ke tangan siswa aman, kualitasnya terjaga, dan benar-benar memberi dampak nyata bagi tumbuh kembang mereka,” paparnya.
Tokoh Penggerak Disabilitas Nasional, Reda Manthovani, menyampaikan, program Makan Bergizi Gratis (MBG) swasta ini menunjukkan bahwa pendekatan kolaboratif yang didukung teknologi dapat menghadirkan dampak yang lebih terukur dan berkelanjutan.
“Melalui pemanfaatan pemantauan berbasis AI, kami dapat memastikan proses penyediaan makanan berjalan dengan standar keamanan pangan yang lebih aman, berkualitas dan transparan, sekaligus memperkuat peran UMKM lokal sebagai bagian dari ekosistem. Bagi kami, inklusi berarti memastikan setiap anak, termasuk anak berkebutuhan khusus, mendapatkan akses terhadap makanan bergizi yang layak dengan proses yang dapat dipercaya,” ungkapnya.
Seluruh proses dalam program MBG didukung oleh sistem digital yang terdokumentasi dengan baik, mulai dari deklarasi kesiapan mitra UMKM, konfirmasi pengiriman, hingga umpan balik dari pihak sekolah. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat akuntabilitas program, tetapi juga memungkinkan perbaikan berkelanjutan melalui pendampingan dan edukasi kepada mitra UMKM.









