TriviaNews.id - Mengalir Dinamis, Mengupas Tuntas
TriviaNews.id - Mengalir Dinamis, Mengupas Tuntas
Mini Seri

Kejar Tayang 3 : Panggilan Palsu, Gertakan Jas Hitam, dan Detik-Detik Penayangan

Avatar photo
144
×

Kejar Tayang 3 : Panggilan Palsu, Gertakan Jas Hitam, dan Detik-Detik Penayangan

Sebarkan artikel ini

“Kebenaran itu bukan barang dagangan yang bisa ditawar di bawah meja. Sekecil apa pun ruang redaksi kita, kalau kita sudah memegang fakta, pantang untuk jalan mundur hanya karena gertakan seragam necis dan dasi rapi.”

— Sis Maya, Redaktur Pelaksana TriviaNews.Id

“Tri… kembalikan map itu ke bawah sekarang juga. Nyawa korporasi kita taruhannya,” bisik Angkasa Putra. Wajah sang editor senior memucat pasrah, ponselnya masih menempel di telinga.

“Maksudnya gimana, Mas Angkasa? Ini dokumen valid!” seru Triantara, mendekap map merah itu lebih erat ke dadanya. Vianala dan Sis Maya ikut menatap Angkasa dengan dahi berkerut, menuntut kejelasan.

Belum sempat Angkasa menjelaskan, sebuah dehaman berat memotong perdebatan mereka. Hermawan, Redaktur Politik TriviaNews.Id yang terkenal suka mencampuri urusan divisi lain, tiba-tiba nongol sambil membawa berkas kliping kasus Roy Suryo.

“Gini lho, anak muda,” sela Hermawan sok tahu, mengacungkan pulpennya ke arah Tri. “Kalau menurut analisis geopolitik dan meta-data saya, masalah map merah itu pasti ada hubungannya dengan pengalihan isu anggaran daerah. Saran saya, mending kamu rilis dokumen itu barengan sama rilis partai oposisi sore ini. Pasti langsung viral!”

“Hermawan, ini rubrik gosip artis, bukan konspirasi pilkada! Balik ke kubikelmu!” semprot Sis Maya ketus, membuat Hermawan langsung ngacir sambil bersungut-sungut.

Tak jauh dari sana, Bung Kusyanto—atau biasa dipanggil Bungkus—wartawan olahraga senior seangkatan Pak Rambe, ikutan nimbrung. Sambil memegang handuk kecil di lehernya pasca-nobar cuplikan Piala Dunia 2026, Bungkus terkekeh. “Alah, Maya, jangan galak-galak. Tapi Tri, kalau di dalam map itu ada nama pemilik klub sepak bola lokal, kabari Abang ya! Itu bisa jadi berita transfer pemain terpanas!”

Di tengah keriuhan yang makin ngawur itu, sesosok pemuda berkemeja rapi melangkah mendekat dengan senyum sinis. Aiman Purnama, reporter divisi Bisnis. Seusia dengan Tri dan lulusan dari kampus yang sama, Aiman selalu memandang sebelah mata berita hiburan.

“Mengejar berita settingan sampai segitunya, Tri?” cibir Aiman sambil bersandar di pembatas kubikel, matanya sengaja melirik ke arah Vianala. “Dunia bisnis lagi sibuk bahas inflasi, kalian malah sibuk ngurusin rumah tangga orang yang paling-paling cuma taktik buat naikin rating acara televisi mereka.”

Tri mengepalkan tangan. “Ini dokumen otentik, Man. Bukan settingan.”

“Oh ya?” Aiman maju selangkah, menatap langsung ke arah Via dengan nada suara yang melunak. “Via, kamu mending ikut bantu gue di rubrik Bisnis. Di sana lebih jelas, masa depan kariermu aman. Enggak usah capek-capek ikut skenario enggak jelas bareng Tri.”

Via menghela napas, merasa risih. “Gue happy di sini, Man. Lagian kerja bareng Tri itu seru dan selalu transparan.”

Kalimat Via bak pukulan telak bagi Aiman. Sejak zaman kuliah, Aiman selalu cemburu melihat kedekatan Via dan Tri. Aiman mengira mereka punya hubungan spesial, padahal komitmen Tri dan Via murni profesional sebagai rekan kerja yang kompak—hanya saja, cara mereka menikmati waktu kerja bersama sering kali salah diartikan oleh orang luar, termasuk Aiman yang memendam rasa.

Sementara itu, tensi di selasar luar tak kalah menyengat. Zaim, si office boy, berdiri di depan Mpok Satim dengan wajah yang luar biasa serius, menghilangkan impresi irit bicaranya yang biasa.

“Mpok, stop ngerumpi sama Bu Darmi!” tegas Zaim, menunjuk sapu Mpok Satim yang menganggur. “Sis Maya tadi nyariin. Mpok lupa ya sudah dapat Surat Peringatan kedua (SP 2) gara-gara minggu lalu salah buang draf artikelnya? Kalau dapat SP 3, kita semua repot, Mpok!”

Mpok Satim langsung gelagapan, buru-buru menyambar sapunya sambil melirik takut-takut ke arah kubikel Sis Maya. “Aduh, iya, Zaim. Jantung Emak langsung mau copot rasanya. Iya, iya, Emak kerja sekarang!”

Kembali ke dalam redaksi, Angkasa Putra tiba-tiba merebut map merah dari tangan Tri secara paksa.

“Mas Angkasa! Apa-apaan sih?!” protes Tri.

Angkasa menatap Tri, Via, dan Sis Maya bergantian. Suaranya berbisik, sangat rendah. “Kalian tahu siapa yang telepon saya tadi? Pimpinan konsorsium asing yang memegang saham terbesar korporasi media kita. Dia bilang, kalau isi kesepakatan pra-nikah di map ini sampai bocor… TriviaNews akan ditutup malam ini juga.”

Ruangan mendadak hening. Bahkan Pak Rambe yang baru mau melontarkan nasihat jenaka berikutnya langsung tertegun, pisang gorengnya menggantung di udara.

Triantara terdiam, namun otaknya berputar cepat. Ia menatap ponselnya, lalu menyadari sesuatu yang aneh. “Tunggu dulu…” Tri merebut kembali ponsel Angkasa, melihat nomor luar negeri yang baru saja menelepon.

“Mas Angkasa… kode negara ini bukan dari markas besar investor kita di Singapura,” ucap Tri dengan mata melebar. “Ini kode panggilan dari kawasan rutan Jakarta. Seseorang baru saja meretas jaringan telepon kantor kita untuk menggertak kita!”

Suasana di lantai tiga redaksi TriviaNews.Id mendadak membeku. Tiga pria berjas hitam necis melangkah tegap melintasi kubikel, memotong jalur hulu-hilir Zaim yang langsung ciut dan memeluk erat gagang sapunya di pojokan koridor. Langkah kaki mereka yang berat seolah membungkam semua suara, termasuk kunyahan pisang goreng Pak Rambe yang tertahan di udara.

Pria berjas hitam yang berdiri paling depan—dengan potongan rambut cepak dan kacamata hitam yang tak dilepas meski di dalam ruangan—berhenti tepat di depan meja Triantara. Matanya langsung tertuju pada map merah tebal yang didekap Tri.

“Saudara Triantara,” suara pria itu dingin, datar, dan sarat akan intimidasi. “Kami dari pihak firma hukum perwakilan konsorsium utama. Dokumen di tangan Anda adalah aset properti yang keluar tanpa jalur hukum yang sah. Serahkan sekarang, atau kami terpaksa menempuh jalur pidana atas tuduhan pencurian data.”

Sis Maya langsung maju, pasang badan di depan juniornya. “Tunggu dulu! Ini ruang redaksi. Kami punya hak tolak dan perlindungan jurnalistik untuk melindungi sumber data kami!” gertak Sis Maya dengan suara melengking yang biasa ia pakai untuk menghardik reporter malas.

Namun, pria berjas hitam itu tidak bergeming. Ia menyodorkan sebuah surat resmi berstempel hukum. “Ini perintah penyitaan internal dari dewan komisaris Anda sendiri. Silakan cek.”

Angkasa Putra melihat surat itu dan kembali menghela napas berat, memberi kode dengan tatapan mata agar Tri tidak gegabah. Di sebelah Tri, Vianala meremas ujung kemejanya, cemas setengah mati melihat situasi yang semakin di luar kendali.

Melihat musuh bebuyutannya terpojok, Aiman Purnama yang sejak tadi menonton dari pembatas kubikel bisnis tersenyum sinis. “Nah, apa gue bilang, Tri? Berita hiburan yang lo kejar itu cuma bawa masalah. Sekarang lo malah bikin reputasi kampus kita ikutan jelek kalau sampai lo diseret ke meja hijau,” bisik Aiman memanaskan suasana, matanya sengaja melirik Via untuk mencari simpati.

Triantara tidak menggubris ucapan Aiman. Otaknya berputar cepat mengingat temuan terakhirnya tentang nomor telepon palsu dari rutan. Ia menatap lekat-lekat sepatu pantofel milik ketiga pria berjas hitam itu, lalu beralih ke surat berstempel yang mereka bawa. Ada sesuatu yang janggal.

“Bentar…” Tri bersuara, membuat perhatian seisi ruangan kembali tertuju padanya. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan debar jantungnya. “Kalau Anda benar-benar utusan resmi dari dewan komisaris pusat, kenapa nomor manifes surat tugas ini menggunakan format tahun lalu? Dan… kenapa logo konsorsium di kop surat ini masih memakai logo lama sebelum korporasi kita melakukan rebranding tiga bulan lalu?”

Mendengarkan analisis tajam Tri, pria berjas hitam di depan tampak sedikit menegang. Rahangnya mengeras.

“Kalian bukan orangnya investor pusat,” tegas Tri, melangkah maju dengan berani sambil mengangkat ponselnya. “Kalian adalah orang suruhan dari pihak yang sama dengan pengirim teror telepon palsu tadi. Kalian sengaja menyamar jadi orang hukum korporasi supaya bisa merebut map merah ini secara sukarela sebelum kami sempat memublikasikannya!”

“Tri! Lo yakin?!” bisik Via dengan mata berbinar, kagum dengan ketelitian rekan kerjanya yang luar biasa spontan itu.

“Aman, Vi. Gue yakin seratus persen,” jawab Tri mantap, memberikan senyuman menenangkan pada Via yang langsung membuat wajah Aiman di sudut ruangan berubah masam menahan cemburu.

Melihat kedok mereka nyaris terbongkar, pria berjas hitam itu memberi isyarat tangan kepada dua rekannya untuk maju merampas map tersebut secara paksa.

“Zaim! Mpok Satim! Security! Tahan mereka!” teriak Angkasa Putra yang akhirnya kembali mendapatkan mode tegasnya sebagai editor senior.

Bung Kusyanto yang sedang memegang handuk olahraga langsung memasang kuda-kuda layaknya komentator tinju legendaris. “Wah, ini pelanggaran berat! Kartu merah!” serunya bersemangat. Sementara Hermawan dari meja politik berteriak dari jauh, “Ini adalah bentuk represi terhadap kebebasan pers pasca-pemilu!”

Di tengah kekacauan yang siap meledak di ruang redaksi, Pak Rambe Hartanto tiba-tiba melangkah ke tengah-tengah, berdiri tepat di antara Tri dan ketiga pria berjas hitam tersebut sambil memegang sisa pisang gorengnya.

“Sabar, Saudara-saudara sekalian yang berjas rapi,” ujar Pak Rambe dengan senyum santai tanpa beban, seolah tidak peduli dengan suasana tegang di sekelilingnya. “Sebelum kalian baku hantam dan merusak inventaris kantor yang cicilannya belum lunas, bagaimana kalau kita tonton dulu layar televisi utama redaksi kita?”

Semua mata—termasuk ketiga pria misterius itu—secara refleks menoleh ke arah layar televisi besar di tengah ruangan yang terhubung langsung dengan sistem penayangan breaking news.

Di layar, artikel utama TriviaNews.Id sudah tayang dengan judul besar: “Eksklusif: Dokumen Pra-Nikah Rahasia Ruben-Sarwendah Terbongkar, Dalang Teror Media Mulai Panik!”

Ternyata, saat Tri sedang berdebat dan mengulur waktu, tangan cekatan Sis Maya dan Via sudah bergerak cepat di bawah meja untuk menekan tombol publish draf artikel yang sudah disiapkan!

“Beritanya sudah naik, dan diakses oleh seratus ribu pembaca dalam waktu dua menit,” ujar Sis Maya sambil tersenyum puas, memamerkan layar laptopnya yang menunjukkan grafik traffic melonjak tajam. “Dokumen di dalam map itu sudah aman dalam bentuk digital di server kami.”

Mendengar hal itu, pemimpin pria berjas hitam tersebut menurunkan tangannya. Ia menatap Triantara dengan pandangan penuh kekalahan. “Pekerjaan yang rapi, TriviaNews. Tapi ingat… ini baru permulaan dari masalah besar yang kalian rilis.”

Tanpa membuang waktu lagi, ketiga pria misterius itu berbalik arah dan bergegas masuk kembali ke dalam lift barang, meninggalkan ruang redaksi yang langsung meledak oleh sorak-sorai kemenangan.

Triantara mengembuskan napas lega, bersandar di meja kubikelnya sementara Via langsung memberikan tepukan bangga di pundaknya. Di seberang mereka, Aiman hanya bisa membalikkan badan dengan gusar, kembali ke rubrik bisnisnya dengan kekalahan telak dalam urusan berita maupun asmara.

“Kerja bagus, Tri. Besok saya naikkan bonus transportmu,” ujar Pak Rambe bangga, lalu menggigit sisa terakhir pisang gorengnya. “Tapi ingat, besok draf investigasi kelanjutannya harus siap sebelum jam delapan pagi!”

Triantara hanya bisa tersenyum kecut. Di redaksi harian TriviaNews.Id, satu masalah mungkin selesai, tetapi deadline berikutnya selalu setia mengintai.


Nantikan Selanjutnya: Fragmen Masa Lalu – Triantara sang Pembangkang Berdarah Hijau!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *