Cerpen

Kejar Tayang 1 : Simfoni Tenggat Waktu dan Gosip Koridor

Avatar photo
×

Kejar Tayang 1 : Simfoni Tenggat Waktu dan Gosip Koridor

Sebarkan artikel ini
“Mengejar berita itu seperti mengejar angkot di lampu merah. Kalau terlalu cepat capek sendiri, kalau lambat ya ketinggalan!”

— Pak Rambe, Pemred TriviaNews

Aroma kopi saset, bau minyak angin, dan gemeretak papan ketik beradu menjadi satu, menciptakan lagu kebangsaan yang diputar setiap hari di lantai tiga kantor redaksi TriviaNews.Id. Hari ini situasi jauh lebih kacau dari biasanya. Isu perceraian Ruben Onsu dan Sarwendah sedang berada di titik didih, dan redaksi hiburan dituntut untuk tidak boleh tertinggal satu detik pun dari media saingan.

“Tri! Via! Mana update sidang Ruben-Sarwendah? Media sebelah sudah naik headline baru soal perebutan hak asuh anak, kita masih mandek di rilis kemarin!” Suara melengking itu membelah ruangan, berasal dari kubikel ujung.

Siapa lagi kalau bukan Sis Maya, Redaktur Hiburan TriviaNews yang paling antipati dipanggil ‘Mbak’ atau ‘Bu’. Ke-killer-annya diakui seluruh kantor, berbanding lurus dengan kecepatan ketikannya yang menyerupai senapan mesin.

Triantara yang baru saja mendaratkan pantatnya di kursi usai menerobos kemacetan Jakarta langsung refleks membuka laptop. Di sebelahnya, Vianala sedang sibuk menempelkan ponsel ke telinga dengan wajah panik.

“Bentar, Sis! Ini lagi nunggu konfirmasi pengacara!” sahut Via setengah berbisik, sementara jemarinya memberi kode kepada Tri untuk mulai menyusun draf latar belakang kasusnya terlebih dahulu.

Tepat di sebelah kubikel hiburan, atmosfer mendadak terasa makin dingin. Angkasa Putra, sang editor senior, berjalan mendekat. Wajahnya tegang, lurus, dan tanpa kompromi. Tangannya bersendekep di dada, matanya menatap tajam ke arah layar monitor Tri.

“Dua menit, Tri. Kalau struktur paragraf pertamamu masih bertele-tele dan tipografi berantakan seperti kemarin, saya potong setengah tulisanmu tanpa ampun. Kita kejar real-time,” ucap Angkasa dingin. Bagi Angkasa, deadline adalah harga mati. Tidak ada alasan macet atau narasumber sulit dihubungi dalam kamusnya.

Namun, kegilaan TriviaNews tidak berhenti di meja hiburan. Kantor ini seperti miniatur suaka margasatwa yang diisi manusia-manusia multitalenta berkadar stres tinggi.

Tepat di seberang mereka, ruang redaksi Politik justru sedang membara oleh perdebatan faksi. Bukan soal kebijakan negara, melainkan analisis tanpa akhir mengenai kasus Roy Suryo. Dua reporter politik tampak mengacungkan telunjuk ke layar monitor, berdebat kusir soal meta-data foto dan sudut kemiringan gambar seolah-olah mereka adalah tim forensik internasional.

Sementara itu, kontras di sebelahnya, ruang redaksi Sport malah sepi dari suara ketikan. Tim Sport sedang berkumpul di depan satu layar televisi besar, bersorak tertahan sambil menonton siaran ulang cuplikan pertandingan Piala Dunia 2026. Gol demi gol dianalisis dengan penuh gairah, mengabaikan tumpukan rilis berita olahraga daerah yang belum disentuh.

Keabsurdan memuncak di meja redaksi Wisata dan Budaya. Dua jurnalis senior di sana hampir terlibat baku hantam verbal hanya demi memperebutkan posisi headline.

“Destinasi mistis di Gunung Lawu itu lebih menjual untuk algoritma minggu ini!” bentak yang satu.

“Enggak bisa! Festival kuliner rindu kampung halaman di Yogyakarta harus jadi headline utama!” balas yang lain tak mau kalah, saling tarik-menarik draf artikel cetak.

Di pojok ruangan, tim redaksi Teknologi justru hidup di dimensinya sendiri. Mereka tidak berteriak, tidak menonton bola, dan tidak berdebat. Mereka hanya duduk melingkar, mata mereka berbinar-binar memelototi sebuah ponsel keluaran terbaru yang baru saja datang dari kurir komparasi. Mereka mengelus bodi ponsel itu seolah-olah sedang mengagumi artefak purbakala yang sakral.

Di tengah ketegangan antardivisi yang nyaris meledak itu, sebuah tawa renyah mendadak terdengar dari arah pintu masuk.

“Wah, wah, tegang sekali ruangan ini. Seperti mau nunggu pengumuman perang dunia saja,” seloroh Pak Rambe Hartanto, Pemimpin Redaksi TriviaNews. Beliau berjalan santai sambil memegang cangkir kopi bergambar kartun.

Pak Rambe menghampiri meja Tri dan Via yang sedang berkeringat dingin di bawah tatapan maut Angkasa. “Ingat anak-anak, mengejar berita itu seperti mengejar angkot di lampu merah. Kalau kamu terlalu cepat, kamu capek sendiri. Kalau kamu terlalu lambat, kamu ketinggalan. Jadi kuncinya apa?”

Tri dan Via saling berpandangan, berharap ada nasihat jurnalistik tingkat tinggi yang keluar dari mulut bos mereka.

“Kuncinya ya naik ojek online saja, jangan naik angkot,” lanjut Pak Rambe sambil tertawa sendiri dengan humornya, lalu menepuk pundak Tri. “Santai saja, yang penting beritanya naik sebelum matahari terbit besok ya.”

“Pak, kalau besok namanya bukan breaking news lagi, tapi sejarah!” gerutu Sis Maya dari kubikelnya. Pak Rambe hanya terkekeh dan melenggang masuk ke ruangannya tanpa rasa bersalah. Nasihat yang—seperti biasa—sama sekali tidak berguna di saat genting.


Sementara di dalam ruangan redaksi dipenuhi kepulan stres, dinamika di selasar luar kantor justru tak kalah panas.

Zaim, si office boy yang terkenal murah senyum dan sangat irit bicara, sedang mendorong troli berisi tumpukan gelas kotor. Wajahnya yang biasa lempeng kini tampak sedikit berkerut. Mulutnya berkomat-kamit, ngedumel pelan sembari mengelap meja koridor.

Bagaimana Zaim tidak kesal? Di sudut selasar, rekan kerjanya, Mpok Satim, malah meninggalkan sapunya begitu saja. Perempuan paruh baya itu sedang asyik bersandar di dekat dispenser, mengobrol seru dengan Bu Darmi, pelayan dari rumah makan padang sebelah kantor yang sedang mengantarkan pesanan piring.

“Eh, Bu Darmi, beneran itu! Saya lihat sendiri pakai mata kepala saya yang min dua ini,” bisik Mpok Satim setengah mendesis, matanya melirik ke arah ruangan Sis Maya. “Sis Maya itu, tiap pulang malam, pasti dijemput sama brondong. Tingginya semampai, potongan rambutnya kayak artis Korea yang di TV-TV itu loh!”

Bu Darmi langsung menutup mulutnya dengan celemek, matanya melebar. “Ya ampun, Mpok! Serius? Padahal kalau di rumah makan saya, Sis Maya kalau pesan rendang galaknya minta ampun, mintanya yang gak pakai urat. Ternyata seleranya brondong yang uratnya masih kencang!”

Zaim yang lewat di depan mereka hanya bisa menghela napas panjang. Ia menggelengkan kepala, memungut sapu Mpok Satim yang tergeletak, dan melanjutkan tugasnya tanpa mengeluarkan satu patah kata pun. Baginya, badai gosip di selasar dan kejar tayang berita di dalam redaksi adalah dua lingkaran setan yang tidak akan pernah usai di TriviaNews.Id.

“Via, angkat! Pengacaranya telepon!” seru Tri tiba-tiba dari dalam ruangan, memecah konsentrasi semua orang.

Via dengan cekatan menyalakan mode perekam. Jarum jam dinding redaksi terus berputar, dan bagi duo reporter TRI-VIA, perburuan informasi baru saja dimulai kembali.

Namun, tepat saat Via menempelkan ponsel ke telinga dan menyapa sang pengacara, sebuah notifikasi pesan singkat masuk ke ponsel Tri. Layarnya menyala, menampilkan sebuah pesan dari nomor tak dikenal yang berisi satu baris kalimat pendek:

“Jangan percaya rilis pengadilan hari ini. Konflik Ruben-Sarwendah yang sebenarnya ada di dokumen rahasia ini. Saya tunggu di basement kantor Anda sekarang. Sendirian.”

Di bawah pesan itu, terlampir sebuah foto dokumen buram dengan cap ‘Rahasia’. Tri tertegun, napasnya tertahan. Ia menoleh ke arah ruang Pak Rambe, lalu ke kubikel Sis Maya yang masih sibuk mengomandani tim, dan terakhir ke arah selasar luar tempat Mpok Satim sedang asyik bergosip.

Siapa pengirim pesan misterius ini? Dan apa sebenarnya yang tersembunyi di bawah lantai kantor TriviaNews.Id?


Nantikan kelanjutan ketegangannya di Babak 2 besok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *