— Angkasa Putra, Editor Senior TriviaNews
Triantara menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat, mengalahkan ritme ketikan jari-jari Sis Maya di ujung ruangan. Di layar, foto sebuah dokumen berstempel merah bertuliskan ‘RAHASIA’ tampak begitu nyata.
“Tri! Malah bengong! Buruan itu draf awal struktur kronologinya diselesaikan. Keburu media sebelah bikin analisis pakai video TikTok!” teguran Angkasa Putra memecah lamunan Tri. Wajah editor senior itu masih tampak tegang tanpa kompromi, lengkap dengan telunjuk yang mengetuk-ngetuk meja komputer Tri.
“Ah, iya, Mas Angkasa. Ini tinggal ngerapiin paragraf terakhir,” jawab Tri cepat, mencoba menyembunyikan getar di suaranya.
Di sebelahnya, Via masih sibuk berbicara dengan pengacara pihak Ruben Onsu. “Iya, Pak… Oh, jadi poin hak asuh itu belum final? Baik, terima kasih banyak, Pak.” Via menutup telepon dan langsung menoleh ke Tri dengan mata berbinar. “Tri! Kita dapat kutipan eksklusif! Pengacaranya bilang—”
“Via, lo pegang ini dulu ya. Gue harus ke toilet sebentar. Perut gue mendadak melilit,” potong Tri sambil berdiri tergesa-gesa. Ia menyambar ponselnya, mengabaikan tatapan curiga dari Angkasa yang langsung mengerutkan dahi.
“Toilet atau mau merokok? Deadline tinggal sepuluh menit, Triantara!” seru Angkasa dingin dari belakang.
Tri tidak menjawab. Ia setengah berlari keluar dari ruang redaksi, melewati selasar luar tempat Mpok Satim dan Bu Darmi yang tampaknya sudah beralih menggosipkan menu takjil fiktif meski bulan Ramadan masih jauh. Zaim si office boy hanya melirik Tri yang panik dengan pandangan malas, lalu kembali mengelap pegangan tangga.
Bukannya menuju toilet di lantai tiga, Tri justru melangkah cepat ke arah lift barang di sudut koridor. Tombol ‘B’ ditekan. Bunyi denting lift terasa seperti dentang lonceng kematian di telinganya.
Pintu lift terbuka, menyajikan pemandangan basement kantor TriviaNews.Id yang remang-remang. Udara di bawah sini pengap, berbau semen lembap dan asap knalpot sisa kendaraan karyawan. Hanya ada beberapa sepeda motor yang terparkir jauh di sudut, serta deretan kardus bekas arsip koran lama yang menumpuk tinggi.
Tri melangkah ragu-ragu. Suara langkah sepatunya menggema di langit-langit beton yang rendah. “Halo? Ada orang?” panggilnya setengah berbisik.
Sepi. Tidak ada jawaban.
Tiba-tiba, lampu indikator sebuah mobil minibus hitam yang terparkir di balik tiang beton besar berkedip dua kali. Pintu baris tengahnya bergeser terbuka secara perlahan, memunculkan sosok pria bermasker hitam dan topi pet yang ditarik rendah hingga menutupi mata.
“Triantara dari TriviaNews?” suara pria itu berat dan serak.
“Iya, saya sendiri. Siapa Anda? Dan apa maksud pesan tadi?” Tri mendekat, namun tetap menjaga jarak aman.
Pria itu tidak menjawab. Tangannya terulur dari dalam mobil, menyodorkan sebuah map merah tebal. “Jangan banyak tanya kalau mau media kalian jadi nomor satu malam ini. Di dalam sini ada salinan kesepakatan pra-nikah asli antara Ruben dan Sarwendah yang sengaja disembunyikan dari publik. Isinya jauh lebih rumit daripada sekadar urusan hak asuh anak.”
Tri menerima map itu dengan tangan gemetar. Belum sempat ia membuka ikatannya, pria itu sudah menarik kembali pintunya. “Gunakan dengan bijak. Dan ingat, nama saya jangan pernah muncul di redaksi.” Mobil tersebut langsung menyalakan mesin dan melesat pergi, meninggalkan kepulan asap knalpot yang membuat Tri terbatuk-batuk.
Dengan rasa penasaran yang membuncah, Tri membuka map merah itu di bawah lampu basement yang berkedip-kedip. Matanya menyusuri lembar demi lembar kertas bermaterai tersebut. Detik berikutnya, rahang Tri nyaris jatuh. Isinya benar-benar sebuah bom informasi yang bisa meruntuhkan semua narasi yang beredar di media massa saat ini.
Sementara itu, di lantai tiga, suasana redaksi sudah seperti pasar malam yang kehilangan pawangnya.
“Triantara mana sih?! Ini beritanya harus naik sekarang atau kita kehilangan momen!” teriak Sis Maya frustrasi, rambutnya yang biasa rapi kini sudah agak berantakan.
“Tadi pamitnya ke toilet, Sis. Tapi kok lama banget ya, jangan-jangan pingsan di dalam,” sahut Via yang mulai ikut panik karena draf artikel di komputernya belum bisa dipublikasikan tanpa persetujuan Tri sebagai penulis utama.
Pak Rambe Hartanto keluar dari ruangannya, masih dengan gaya santai andalannya, memegang sebuah pisang goreng yang tampaknya baru ia beli dari lantai bawah.
“Ada apa ini? Kok seru sekali? Jangan tegang-tegang, nanti cepat tua seperti Angkasa,” seloroh Pak Rambe sambil mengunyah pisangnya dengan santai.
“Pak Rambe! Ini Tri hilang di saat krusial. Berita Ruben-Sarwendah kita bisa basi!” keluh Sis Maya, menunjuk layar monitor yang menampilkan grafik traffic pembaca yang mulai melandai.
Pak Rambe mangut-mangut, lalu memberikan petuah andalannya. “Tenang, Sis Maya. Menulis berita itu seperti membuat sambal terasi. Kalau cabainya kurang, tidak pedas. Kalau kebanyakan, mules. Jadi kuncinya apa?”
Via dan Sis Maya hanya menatap bos mereka dengan tatapan datar, sudah hafal template kelanjutannya.
“Kuncinya ya beli sambal botolan saja di minimarket, praktis,” lanjut Pak Rambe terkekeh sendiri, merasa humornya sangat brilian hari ini.
Angkasa Putra yang berdiri di samping meja Tri hanya bisa mengurut dadanya, mencoba menahan sabar agar tidak melempar stapler ke arah sang Pemred.
Tepat pada saat ketegangan memuncak, pintu kaca redaksi terbuka kasar. Triantara masuk dengan napas memburu, wajahnya pucat, tapi matanya memancarkan kepuasan yang aneh. Di tangannya, ia mendekap sebuah map merah tebal.
“Gue dapat, Vi. Kita dapat super-exclusive,” bisik Tri setengah terengah-engah saat mencapai kubikelnya.
Sis Maya langsung berdiri dari kursinya. “Map apa itu, Tri? Jangan bilang lo sengaja ke bawah cuma buat ambil dokumen rilis yang sebetulnya bisa di-download di situs pengadilan?!”
Tri menggeleng kuat-kuat. Ia meletakkan map merah itu di tengah meja, membuat Angkasa, Via, dan Sis Maya langsung condong ke depan untuk melihatnya.
“Ini bukan rilis pengadilan, Sis. Ini… dokumen yang bakal bikin seluruh media di Indonesia kiblatnya ke TriviaNews malam ini,” ujar Tri mantap.
Namun, belum sempat Tri membuka halaman pertama dokumen tersebut, ponsel pintar milik Angkasa Putra yang diletakkan di atas meja mendadak bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang berkode khusus luar negeri.
Angkasa mengangkatnya, mendengarkan selama tiga detik, dan wajahnya yang biasa tegang mendadak berubah menjadi pucat pasi. Ia langsung menatap Tri dengan pandangan yang sulit diartikan.
“Tri…” suara Angkasa mendadak bergetar, menghilangkan kesan dinginnya yang biasa. “Kembalikan map itu ke bawah sekarang juga. Nyawa korporasi kita taruhannya.”
Nantikan kelanjutan ketegangannya di Babak 3 besok! Apakah isi dokumen di dalam map merah tersebut? Dan siapa sebenarnya yang menelepon Angkasa Putra?


