TriviaNews.id - Mengalir Dinamis, Mengupas Tuntas
TriviaNews.id - Mengalir Dinamis, Mengupas Tuntas
Medika

Pentingnya Zat Besi untuk Kecerdasan dan Tumbuh Kembang Bayi

Avatar photo
47
×

Pentingnya Zat Besi untuk Kecerdasan dan Tumbuh Kembang Bayi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi bayi sehat sedang menikmati makanan pendamping ASI (MPASI) yang bergizi.
Potret bayi sehat yang sedang menikmati MPASI bergizi sebagai sumber pemenuhan zat besi untuk tumbuh kembang optimal. Foto: https://www.popmama.com/
Zat besi sangat vital bagi pembentukan hemoglobin dan perkembangan otak bayi. Kekurangan mineral ini dapat menyebabkan anemia yang berisiko mengganggu kecerdasan, konsentrasi, dan kemampuan belajar anak di masa depan.

Jakarta, TriviaNews – Zat besi adalah mineral vital bagi bayi untuk membentuk hemoglobin. Nutrisi ini berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh dan mendukung perkembangan otak agar anak tumbuh cerdas di masa depan, dilansir dari Popmama.

Kebutuhan zat besi meningkat pesat sejak bayi berusia empat bulan. Karena tubuh tidak bisa memproduksi mineral ini sendiri, orang tua wajib memenuhinya melalui suplemen atau makanan pendamping ASI (MPASI) kaya zat besi setelah bayi berumur enam bulan.

dr. Aisya Fikritama, Sp.A., melalui akun Instagram pribadinya, menjelaskan bahwa zat besi tidak sekadar menjaga kesehatan darah. Mineral ini adalah komponen utama yang mengantarkan oksigen ke otak, memengaruhi kemampuan belajar, serta daya ingat anak.

Zat besi juga krusial dalam pembentukan selubung saraf atau mielin. Selain itu, mineral ini membantu proses penghantaran sinyal antarsel saraf. Kekurangan zat besi pada 1.000 hari pertama kehidupan dapat mengganggu fungsi otak secara permanen.

Penelitian menunjukkan bahwa anak dengan anemia akibat kekurangan zat besi memiliki skor kognitif lebih rendah. Namun, orang tua perlu ingat bahwa zat besi bukanlah obat ajaib yang secara instan membuat anak menjadi jenius dalam waktu singkat.

Pada usia enam bulan, anak menjadi lebih rentan terhadap anemia defisiensi zat besi. Kondisi ini sering ditandai dengan gejala fisik seperti kulit pucat, tubuh yang lemas, nafsu makan menurun, hingga gangguan tidur yang memengaruhi aktivitas sehari-hari.

Gejala lain yang harus diwaspadai adalah keterlambatan perkembangan dan perilaku makan benda non-makanan seperti es batu atau tanah (pica). Anak yang kurang zat besi juga berisiko mengalami gangguan konsentrasi dan penurunan kemampuan psikomotor.

Bayi yang hanya mendapat ASI tanpa MPASI kaya zat besi setelah enam bulan sangat berisiko anemia. Selain itu, pemberian susu sapi sebelum usia satu tahun tidak disarankan karena dapat mengganggu penyerapan zat besi serta memicu perdarahan mikro.

Bayi prematur atau dengan berat lahir rendah (BBLR) juga memiliki risiko lebih tinggi. Karena kekurangan cadangan zat besi, mereka membutuhkan asupan yang lebih adekuat untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan otak yang optimal sejak dini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *