TriviaNews.id - Mengalir Dinamis, Mengupas Tuntas
TriviaNews.id - Mengalir Dinamis, Mengupas Tuntas
Mini Seri

Kejar Tayang 5 : Sabotase Pagi dan Ancaman yang Menggila

Avatar photo
38
×

Kejar Tayang 5 : Sabotase Pagi dan Ancaman yang Menggila

Sebarkan artikel ini

“Ayah gue gak pernah salah! Beliau dijebak oleh orang-orang korporat sialan itu untuk menutupi kebusukan mereka sendiri!”

— Vianala, Reporter Hiburan TriviaNews.Id

Sinar matahari pagi yang baru saja menembus kaca jendela lantai tiga gedung TriviaNews.Id sama sekali tidak membawa kehangatan bagi Vianala. Langkah kakinya mendadak membeku di depan kubikel hiburan, tatapannya terpaku pada layar laptopnya yang seharusnya mati namun kini justru menyala sendiri menampilkan video hitam-putih.

Di dalam rekaman video tanpa suara itu, kamera amatir menangkap sosok seorang pria paruh baya yang sangat ia kenali sedang bertransaksi di dalam mobil mewah dengan salah satu petinggi konsorsium.

Tepat di atas keyboard laptopnya yang dingin, sebuah amplop cokelat tebal tergeletak dengan tulisan cakar ayam berwarna merah darah yang sangat mencolok. Kalimat di atasnya begitu lugas dan mengerikan: “Ganti rugi darah hijau Triantara, atau reputasi ayahmu tamat pagi ini.” Jantung Via serasa dihantam palu godam seketika, menyadari bahwa rahasia kelam masa lalu ayah angkatnya yang mengelola yayasan panti asuhan kini telah bocor ke tangan musuh.

“Bagus kan kualitas videonya? Itu draf investigasi eksklusif yang sengaja gue tahan di server rubrik Bisnis agar tidak telanjur menyebar,” sebuah bisikan dingin mendadak terdengar tepat di belakang telinga Via.

Via tersentak hebat hingga hampir saja menjerit histeris kalau sebuah tangan tidak kasat mata tidak segera mencengkeram pembatas kubikel di sampingnya.

Aiman Purnama sudah berdiri di sana dengan senyum seringai yang sangat sinis dan penuh kemenangan. Tatapan mata pria itu tampak begitu kosong, dingin, dan sama sekali tidak menyiratkan rasa bersahabat sedikit pun seperti biasanya.

“Lo… lo dapat dari mana video ini, Man?! Jawab jujur!” desis Via dengan suara yang bergetar hebat akibat menahan amarah dan ketakutan yang bercampur aduk.

Aiman justru maju selangkah lagi, mempersempit jarak yang ada hingga tubuh Via benar-benar terpojok di antara kursi kerja dan meja komputer. “Gak penting dari mana gue dapat video itu, Vi. Yang jelas, ayah angkat lo yang terhormat itu ternyata adalah kaki tangan utama konsorsium raksasa untuk mencuci uang hasil korupsi proyek laboratorium lima tahun lalu,” jawab Aiman setengah berbisik namun sarat akan intimidasi.

“Ayah gue gak pernah salah! Beliau dijebak oleh orang-orang korporat sialan itu untuk menutupi kebusukan mereka sendiri!” balas Via dengan tatapan mata yang mendadak menajam, mencoba sekuat tenaga membela kehormatan keluarganya yang diinjak-injak.

Aiman justru terkekeh meremehkan mendengarnya, lalu jemarinya dengan sangat lancang meraih dagu Via secara paksa agar gadis itu menatap langsung ke matanya. “Publik gak akan pernah peduli dia dijebak atau gak, Vi. Begitu video ini gue klik publish jam sembilan nanti, karir lo di media ini hancur total, dan nama baik yayasan bokap lo bakal rata dengan tanah dalam hitungan detik.”

Brak! sebuah hantaman keras tiba-tiba mendarat di permukaan meja kubikel, membuat cangkir kopi di atasnya melompat dan menumpahkan isinya yang hitam pekat.

Triantara yang baru saja tiba langsung menyambar kerah kemeja necis Aiman dengan satu tangan, menariknya paksa menjauh dari tubuh Via yang mulai gemetar hebat.

“Lepasin tangan kotor lo dari dia sekarang juga, Aiman!” gertak Triantara dengan urat-urat leher yang menegang sempurna akibat amarah yang memuncak. Matanya tampak merah padam, tersulut emosi yang luar biasa melihat rekan kerjanya dilecehkan secara verbal dan mental di depan matanya sendiri.

Aiman yang kerah kemejanya dicengkeram kuat justru tertawa lepas tanpa ada rasa takut sedikit pun, seolah-olah situasi kacau ini sudah masuk dalam skenarionya. “Hantam aja gue, Tri! Pukul wajah gue sekarang juga supaya lo langsung dipecat secara tidak hormat dan bisa menonton kehancuran Vianala dari luar gedung ini!” tantang Aiman memprovokasi dengan nada mengejek.

“Tri, jangan! Tolong lepasin Aiman sekarang juga!” teriak Via panik sambil memegangi lengan Triantara sekuat tenaga, takut sahabatnya itu melakukan tindakan gegabah yang merusak karirnya sendiri.

Tensi panas di kubikel itu mendadak terhenti saat sebuah dehaman berat memotong perseteruan mereka dari arah selasar tengah. Bung Kusyanto berjalan mendekat sambil membawa gulungan koran olahraga pagi, matanya menatap tajam ke arah dua jurnalis muda yang sudah bersiap baku hantam tersebut.

“Heh, anak muda! Ini ruang redaksi berita yang terhormat, bukan ring tinju bayaran di Pasar Rebo!” bentak Bungkus dengan suara baritonnya yang menggelegar, membuat Triantara perlahan melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Aiman dengan gusar.

Aiman merapikan kembali kemejanya yang kusut sambil melemparkan senyum kemenangan yang sangat memuaskan ke arah Tri dan Via. “Gue kasih waktu sampai jam rapat dewan redaksi nanti siang, Via. Pilihannya cuma dua: lo ikut gue pindah ke rubrik Bisnis dan serahkan flashdisk enkripsi milik Tri semalam, atau video bokap lo ini jadi berita utama nasional,” ancam Aiman telak sebelum melangkah pergi secara angkuh.

Triantara langsung berbalik menatap Via dengan sejuta pertanyaan yang menuntut kejelasan segera di kepalanya. “Vi… apa maksud omongan Aiman tadi? Dokumen apa yang sebenarnya dia maksud tentang bokap lo?” tanya Tri dengan nada suara yang melunak namun penuh penekanan.

Via tidak menjawab pertanyaan itu, ia justru langsung terduduk lemas di kursinya sambil menutup wajahnya rapat-rapat dengan kedua telapak tangan. Isak tangisnya yang selama ini ditahan sekuat tenaga akhirnya pecah di tengah keheningan ruang redaksi yang perlahan mulai didatangi oleh karyawan lain.

Melihat kondisi Via yang tampak hancur, Sis Maya keluar dari ruangannya dengan wajah yang luar biasa serius seolah sudah mengetahui benang merah dari apa yang terjadi. “Tri, bawa Via ke ruang arsip bawah tanah sekarang juga sebelum anak-anak divisi lain melihat kekacauan ini. Zaim, jaga pintu koridor utama dan jangan biarkan Aiman atau siapa pun mendekati kubikel hiburan sampai instruksi saya selanjutnya!” perintah Sis Maya tegas tanpa bantahan.

Zaim langsung mengangguk patuh, memegang gagang sapunya erat-erat layaknya seorang prajurit setianya yang sedang menjaga benteng pertahanan terakhir dari serbuan musuh. Triantara membantu Via berdiri, menuntun langkah kaki gadis itu yang limbung menembus lorong sepi gedung menuju ruang arsip bawah tanah yang gelap dan pengap.

Kotak pandora baru telah terbuka secara paksa pagi ini di TriviaNews.Id. Taruhannya bukan lagi sekadar idealisme jurnalisme kampus milik Triantara, melainkan keselamatan hidup dan masa depan Vianala yang kini benar-benar berada di ujung tanduk hukum yang kejam.

Ikuti kisah selanjutnya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *