TriviaNews.id - Mengalir Dinamis, Mengupas Tuntas
TriviaNews.id - Mengalir Dinamis, Mengupas Tuntas
Mini Seri

Kejar Tayang 4 : Pembangkang Berdarah Hijau

Avatar photo
61
×

Kejar Tayang 4 : Pembangkang Berdarah Hijau

Sebarkan artikel ini

“Tempat ini adalah TriviaNews, bukan lagi ruang pers mahasiswa yang bisa Anda segel dengan selembar surat rektorat. Badai hukum atas pencucian uang Anda sudah resmi bergulir malam ini.”

— Triantara, Reporter Hiburan TriviaNews.Id

Malam semakin larut di lantai tiga gedung TriviaNews.Id, meninggalkan keheningan yang kontras setelah badai ketegangan tadi. Satu per satu lampu kubikel mulai dimatikan dengan bunyi klik yang beruntun. Bung Kusyanto sudah lama melesat pulang dengan motor bebek tuanya, sementara Hermawan masih samar-samar mengetik di sudut meja politik.

Di kubikel hiburan, Triantara masih duduk termenung menatap grafik artikel “Ruben-Sarwendah” yang menembus angka satu juta pembaca. Di sebelahnya, Vianala sedang merapikan tas ranselnya sambil menyampirkan jaket denim ke pundak.

“Tri, lo gak balik? Udah jam sebelas lewat nih,” tanya Via lembut, membuyarkan lamunan rekan kerjanya.

Tri mengembuskan napas panjang lalu memijat pelipisnya yang berdenyut. “Bentar lagi, Vi. Gue masih kepikiran omongan orang berjas hitam tadi sebelum mereka kabur lewat lift.”

“Maksud lo soal ‘ini baru permulaan dari masalah besar’?” Via balik bertanya, menatap Tri dengan dahi berkerut.

“Kalian itu memang jurnalis, tapi kadang suka lambat kalau membaca tanda bahaya,” sebuah suara familier memotong obrolan mereka.

Sis Maya berjalan mendekat sambil membawa cangkir kopi hitamnya yang sudah dingin. Ia bersandar di pembatas meja kayu dengan gaya tegasnya yang khas.

“Insting lo gak berubah, Tri. Sama persis kayak lima tahun lalu saat lo masih jadi mahasiswa ingusan yang bikin pusing satu kampus,” lanjut Sis Maya dengan senyum tipis.

Via langsung menegakkan duduknya, rasa penasarannya terpancing seratus persen. “Kampus? Emang ada apa dengan Tri di kampus dulu, Sis? Dari sore Aiman nyindir-nyindir mulu.”

Triantara hanya bisa tersenyum kecut dan menyandarkan punggungnya ke kursi kerja. Memori lama yang selama ini ia kunci rapat mendadak berputar kembali di kepalanya.

“Triantara ini dulu punya nama besar di kalangan aktivis, Vi. Julukannya ‘Pembangkang Berdarah Hijau’ di Lembaga Pers Mahasiswa mereka,” jelas Sis Maya gamblang.

“Serius, Sis? Keren banget namanya! Terus kenapa bisa dijuluki begitu?” kejar Via dengan mata berbinar-binar.

“Keren apanya, dia hampir dikeluarkan secara tidak hormat oleh rektorat!” potong Sis Maya sambil terkekeh sinis. “Anak ini nekat merilis investigasi korupsi dana laboratorium yang melibatkan rektor dan konsorsium raksasa.”

“Lho, terus hubungannya sama Aiman Purnama apa, Sis?” tanya Via lagi, semakin tidak sabar.

“Nah, ini bagian paling menariknya,” Sis Maya menjeda kalimatnya untuk menyeruput sisa kopinya. “Si Aiman itu ketua dewan advokasi mahasiswa yang malah memihak rektorat demi mengamankan beasiswa penuhnya.”

Triantara akhirnya membuka suara, memotong penjelasan Redaktur Pelaksananya itu. “Aiman milih jalur aman, Vi. Akibatnya, ruang redaksi pers mahasiswa gue disegel paksa malam itu juga.”

“Tapi lo gak menyesal kan, Tri?” tanya Via pelan, ada nada simpati yang tulus dalam suaranya.

“Gak pernah, Vi. Dan yang bikin gila, konsorsium raksasa yang menyuap rektorat gue lima tahun lalu itu… nama anak perusahaannya ada di map merah tadi,” ungkap Tri dengan mata menajam.

Via spontan menutup mulutnya dengan telapak tangan, tidak percaya dengan kebetulan yang begitu mengerikan. “Jadi… pernikahan artis ini cuma tameng buat cuci uang mereka?”

“Tepat sekali. Mereka meneror kita karena tahu gue gak akan pernah membiarkan dokumen ini mengendap di bawah meja,” tambah Tri mantap.

Di seberang koridor, Zaim si office boy tiba-tiba muncul dari arah toilet sambil membawa sapu dan embernya. “Mbak Via, Mas Tri, Sis Maya… kok belum pulang? Ini lantai tiga mau saya gembok,” ujar Zaim dengan gaya irit bicaranya yang biasa.

Belum sempat Sis Maya menjawab Zaim, lampu utama di lantai tiga mendadak berkedip-kedip tidak stabil. Pet! Ruangan seketika padam total dan menjadi gelap gulita.

“Aduh! Jantung Emak mau copot!” terdengar teriakan melengking dari arah pantry. Rupanya Mpok Satim belum pulang dan sedang mencuci gelas di dalam kegelapan.

“Mpok! Diam di situ, jangan bergerak!” seru Zaim yang mendadak berubah mode menjadi protektif.

Satu-satunya cahaya yang tersisa di ruangan itu hanyalah pendaran putih dari layar laptop milik Tri. Di tengah kegelapan pekat itu, terdengar suara langkah kaki yang sangat asing dari arah lift barang.

Plak! Plak! Plak! Langkah itu terdengar sangat berat dan berirama lambat. Suara entakan sol tebal itu jelas berasal dari sepatu bot militer, bukan sepatu kerja biasa.

“Siapa di sana?! Jangan main-main ya!” gertak Sis Maya lantang, naluri jurnalis seniornya langsung membuat ia pasang badan di depan Tri dan Via.

Klik! Sebuah senter taktis bersorot LED putih yang sangat terang tiba-tiba menyala dari ujung koridor. Sorot lampu menyilaukan itu diarahkan lurus, tepat mengenai wajah Triantara hingga membuat pemuda itu spontan memicingkan mata.

“Darah hijaumu itu akan langsung membusuk di bawah tanah, Triantara, jika kamu tidak pernah tahu kapan harus berhenti melangkah,” sebuah suara bariton yang berat menggema di dalam ruangan.

Sosok itu berjalan mendekat dengan perlahan, membiarkan wajahnya terpapar sedikit cahaya dari layar laptop Tri. Triantara tersentak mundur hingga kursinya berdecit keras di atas lantai setelah mengenali wajah tersebut.

“Pak Baskoro…” bisik Triantara dengan tenggorokan yang mendadak terasa kering dan tercekat.

Pria paruh baya berjaket kulit hitam di depan mereka adalah mantan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan yang dulu menyegel ruang redaksi kampus Tri. Kini, ia telah menjabat sebagai Direktur Kepatuhan di konsorsium raksasa yang sedang diselidiki TriviaNews.

Pak Baskoro tersenyum dingin lalu meletakkan sebuah map hitam tebal di atas meja Tri. “Satu telepon saja dari saya ke senat akademik, maka ijazah dan gelarmu akan dibatalkan malam ini juga atas tuduhan sabotase data.”

Via langsung memegang lengan Tri dengan sangat erat, tubuhnya gemetar menghadapi ancaman yang bisa menghancurkan masa depan rekan kerjanya itu.

“Jangan berani-berani mengancam anak buah saya di ruang redaksi ini, Baskoro!” gertak Sis Maya dengan suara melengking yang siap memecahkan kaca jendela.

Namun, Triantara justru menarik napas dalam-dalam dan melepaskan pegangan tangan Via dengan lembut. Ia berdiri tegak, menatap langsung mata mantan wakil rektornya itu tanpa ada rasa takut.

“Silakan telepon senat akademik sekarang juga, Pak Baskoro,” ujar Tri dengan senyuman tipis yang mematikan. “Tempat ini adalah TriviaNews, bukan lagi ruang pers mahasiswa yang bisa Anda segel dengan selembar surat rektorat.”

Tri lalu mengambil sebuah flashdisk dari sakunya dan menyerahkannya kepada Sis Maya. “Seluruh data pra-nikah dan bukti pencucian uang konsorsium Anda sudah terkirim ke jaringan server cadangan di tiga negara.”

Pak Baskoro tertegun, rahangnya mengeras dan wajahnya berubah merah padam karena murka. Gertakan masa lalunya ternyata tidak mempan lagi menghadapi keberanian Triantara.

“Kamu akan menyesali pembangkangan ini, Tri,” desis Pak Baksoro tajam, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi terburu-buru menembus kegelapan menuju lift barang.

Lampu lantai tiga tiba-tiba menyala kembali dengan seketika. Mpok Satim keluar dari pantry sambil mengelus dadanya, “Ya Gusti, untung gak ada baku hantam.”

“Heleh, Mpok, tadi aja mukanya udah pucat kayak donat gula,” celetuk Zaim sambil kembali memegang sapunya, membuat suasana tegang mendadak cair kembali.

Via langsung mengembuskan napas lega yang panjang dan menatap Tri dengan mata berkaca-kaca karena bangga. Sis Maya menepuk pundak Tri dengan keras, “Kerja bagus, Pembangkang Berdarah Hijau. Besok gue mintain Pak Rambe bonus martabak telor!”

Triantara hanya bisa tertawa lepas. Masa lalunya telah tuntas malam ini, dan ia siap menghadapi babak baru bersama orang-orang di sekelilingnya.


Nantikan Selanjutnya di Babak 5: Ketika sebuah amplop cokelat misteri mendarat di meja kerja Vianala, rahasia besar dari divisi lain mulai terendus!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *