TriviaNews.id - Mengalir Dinamis, Mengupas Tuntas
TriviaNews.id - Mengalir Dinamis, Mengupas Tuntas
Lifestyle

Krisis Literasi Gizi di Pringsewu Berisiko Memicu Stunting Disebabkan Orang Tua Salah Pilih Susu untuk Anak

Avatar photo
6
×

Krisis Literasi Gizi di Pringsewu Berisiko Memicu Stunting Disebabkan Orang Tua Salah Pilih Susu untuk Anak

Sebarkan artikel ini

Pringsewu, Trivianews.id – Sama seperti daerah lain, mencari berbagai produk susu Pringsewu tidaklah begitu sulit. Baik itu susu pertumbuhan maupun susu UHT mudah ditemukan masyarakat. Meski begitu, kemudahan memperoleh susu tidak selalu diikuti dengan pemahaman mengenai jenis susu yang tepat untuk memenuhi kebutuhan gizi anak.

Kurangnya pemahaman tersebut membuat sebagian orang tua masih memilih produk berdasarkan kebiasaan, rasa yang disukai anak, atau informasi yang beredar di lingkungan sekitar, bukan berdasarkan kebutuhan gizi anak. Padahal, setiap jenis susu memiliki kandungan, sasaran usia, dan fungsi yang berbeda.

Kondisi inilah yang menjadi tantangan dalam berbagai upaya pembenahan gizi anak dan keluarga di Pringsewu. Seperti diakui oleh Bidan Desa Blitar Rejo, Catur Yuli Megawati yang menyebut bukan soal keterbatasan ekonomi, melainkan literasi yang kurang. Dia mengatakan anak-anak terbiasa dan lebih menyukai susu atau minuman susu yang memiliki rasa manis dibandingkan susu tanpa tambahan rasa.

“Kalau dikasih susu biasa, banyak yang tidak mau. Akhirnya kami cari cara lain, misalnya dibuat puding supaya anak-anak tetap mau mengonsumsinya,” ujar Catur.

Menurut Catur, kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa edukasi mengenai gizi tidak cukup hanya mengajak orang tua memberikan susu kepada anak. Orang tua juga perlu memahami produk yang sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang anak sekaligus membangun kebiasaan konsumsi yang lebih sehat sejak usia dini.

Persoalan literasi juga tampak dari seorang warga desa Blitar Rejo Eka Saryati, yang mengakui caranya salah dalam memberikan susu untuk anaknya. Eka menyebut anaknya terpaksa harus meminum susu pertumbuhan sejak lahir karena tidak dapat diberikan ASI. Namun, cara penyeduhan yang selama ini dilakukan tidak tepat seperti memasukkan bubuk terlebih dahulu dan diseduh bukan sebaliknya. Hal ini membuat nutrisi dari susu pertumbuhan menjadi hilang.

“Saya baru tahu kalau cara menyeduh saya salah ternyata,” tutur Eka.

Syukurnya, kesalahan tersebut sudah diperbaiki oleh kader kesehatan setempat. Saat ini pertumbuhan anak Eka menjadi cepat meski masih banyak harus dikejar oleh anaknya.

Kasus tersebut menunjukkan bahwa persoalan gizi tidak selalu muncul karena keluarga tidak mampu menyediakan pangan bergizi. Dalam banyak kasus, informasi yang tidak utuh mengenai cara memilih maupun memberikan susu kepada anak justru menjadi hambatan yang tidak disadari.

Ketua PW Aisyiyah Lampung, Pristi Wahyu Diawati, selaku salah satu pihak yang terus mengedukasi persoalan kental manis mengatakan pemahaman masyarakat mengenai produk susu sebenarnya mulai mengalami perubahan. Edukasi yang dilakukan berbagai pihak selama beberapa tahun terakhir membuat masyarakat mulai memahami bahwa tidak semua produk yang berlabel atau dianggap susu memiliki fungsi yang sama untuk mendukung pertumbuhan anak, termasuk susu kental manis.

Meski demikian, menurut Pristi, perubahan tersebut belum berarti persoalan telah selesai. Masyarakat masih membutuhkan pendampingan agar mampu memilih produk yang sesuai dengan usia dan kebutuhan anak, memahami cara pemberiannya dengan benar, serta tidak mudah terpengaruh oleh kebiasaan maupun persepsi yang telah lama berkembang di lingkungan sekitar.

“Dulu banyak yang menganggap susu kental manis itu memang susu untuk pertumbuhan. Sekarang pemahamannya sudah mulai berubah, tetapi edukasi tetap harus dilakukan dengan pendekatan kekeluargaan agar masyarakat tidak merasa disalahkan,” ungkap Pristi.

Senada, Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan, dr. Lovely Daisy, menegaskan bahwa masyarakat perlu memahami fungsi setiap produk susu sebelum memberikannya kepada anak. Menurutnya, kental manis bukan disusun sebagai sumber gizi utama untuk memenuhi kebutuhan nutrisi balita pada masa pertumbuhan.

Lovely menjelaskan bahwa kandungan gula yang tinggi dalam susu kental manis memiliki fungsi sebagai pengawet alami sehingga produk dapat bertahan lebih lama. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya orang tua memahami perbedaan setiap produk susu, baik dari kandungan maupun peruntukannya.

“Gula ini sengaja ditambahkan sebagai pengawet alami agar produk memiliki masa simpan yang lama, sehingga sebagian besar kalori yang dihasilkan oleh kental manis berasal dari karbohidrat atau gula,” jelas Lovely.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *