TriviaNews.id - Mengalir Dinamis, Mengupas Tuntas
TriviaNews.id - Mengalir Dinamis, Mengupas Tuntas
Kesehatan

Kemendikdasmen Dorong Edukasi Gizi, Hindari Gula Berlebih

Avatar photo
2
×

Kemendikdasmen Dorong Edukasi Gizi, Hindari Gula Berlebih

Sebarkan artikel ini
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Tatang Muttaqin / Dok. Istimewa

Jakarta, Trivianews.id – Pemenuhan gizi anak usia sekolah masih menghadapi tantangan, mulai dari kekurangan gizi hingga kelebihan gizi. Kondisi tersebut membuat sekolah dinilai perlu mengambil peran lebih besar dalam membentuk kebiasaan makan dan memilih makanan yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Tatang Muttaqin mengatakan sekolah dapat menjadi agen perubahan dalam menjawab persoalan gizi anak. Melalui sekolah, anak akan diberi pemahaman mana makanan yang tepat seperti tidak tinggi gula maupun garam.

“Hal yang paling penting dalam konteks Indonesia saat ini terkait ada kekurangan gizi di anak-anak, juga ada yang berlebih, dan sekaligus ada tantangan terkait kekurangan gizi mikro. Jadi ini bagian penting yang ingin kita respon melalui sekolah sebagai agen perubahan,” kata Tatang dalam perayaan 10 tahun Nutrition Goes to School (NGTS) di Jakarta, Minggu (23/8).

Menurut Tatang, pemenuhan gizi yang baik tidak hanya berdampak pada kesehatan anak, tetapi juga berkaitan dengan kehadiran dan proses belajar di sekolah. Anak yang memperoleh asupan gizi sesuai kebutuhan diharapkan memiliki kondisi kesehatan yang lebih baik sehingga dapat mengikuti pembelajaran secara optimal.

“Mudah-mudahan kalau gizinya sudah oke, kemudian kesehatannya pasti akan lebih baik ya, angka absen sekolahnya akan makin rendah, artinya angka kehadiran sekolah makin tinggi, dan konsentrasi penyerapan untuk belajar juga akan lebih baik sehingga apa yang disampaikan guru dalam proses pembelajaran akan lebih mudah dicerna,” ujar Tatang.

Di sisi lain, persoalan gizi anak tidak hanya berkaitan dengan jumlah makanan yang dikonsumsi, tetapi juga pilihan makanan. Tatang menyoroti kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula, garam, dan bahan tambahan lain sebagai bagian yang perlu diperhatikan dalam membangun pola makan sehat anak.

Kondisi tersebut menjadi relevan dengan masih ditemukannya kesalahan pemahaman masyarakat mengenai sejumlah produk pangan, termasuk susu kental manis yang tinggi gula masih dianggap sebagai susu. Itu terlihat dari survei nasional Universitas Islam Bandung (Unisba) terhadap 2.150 orang tua balita bahkan menunjukkan 67,6 persen responden masih memberikan kental manis sebagai pengganti susu pertumbuhan.

Centre Director SEAMEO RECFON Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A, Subsp.TKPS / Dok. Istimewa

Centre Director SEAMEO RECFON Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A, Subsp.TKPS mengatakan NGTS mendorong sekolah tidak hanya memberikan edukasi mengenai gizi, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Praktik tersebut mencakup pemilihan bahan makanan, pengolahan pangan, hingga pemantauan berat dan tinggi badan anak.

“Pemilihan, sebenarnya pola makan yang paling berubah adalah pemilihan jenis bahan makanan. Dan kemudian pengolahannya. Sehingga kecukupan gizi itu sesuai dengan kebutuhan anak,” kata Rini.

Menurut Rini, edukasi mengenai pemilihan makanan juga mencakup pemilihan susu yang sesuai bagi anak. Ia menilai pengetahuan tersebut perlu diterapkan agar anak tidak hanya memahami makanan yang baik, tetapi juga mampu membawa kebiasaan tersebut ke lingkungan keluarga.

“Iya, diberikan edukasi, benar. Mulai kalau apa, pemilihan susu juga termasuk diperhatikan,” ujar Rini.

Pakar gizi IPB University, dr. Karina Rahmadia Ekawidyani menjelaskan kental manis diproduksi dengan mengurangi kandungan air dalam susu, kemudian menambahkan gula dalam jumlah tinggi yang mencapai sekitar 40–50 persen. Dalam setiap takaran saji sekitar 30 gram atau setara tiga sendok makan, kandungan gulanya mencapai sekitar 15 gram.

Sebagai gambaran, batas konsumsi gula harian yang dianjurkan sekitar 50 gram. Dengan demikian, mengonsumsi sekitar sembilan sendok makan kental manis dalam sehari sudah dapat memenuhi atau bahkan mendekati batas maksimal asupan gula harian.

“Karena komposisi susunya sudah jauh lebih rendah, kandungan protein dan lemaknya juga tidak sesuai jika dikonsumsi sebagai susu harian, maka kalau dijadikan susu minum utama, ada risiko kesehatan,” ujar dr. Karina