Jakarta, Trivianews.id — Rumah Sakit Kanker Dharmais menandai satu dekade pelayanan transplantasi sumsum tulang atau transplantasi sel punca hematopoietik pada 2026. Perjalanan sejak 2016 tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat layanan kanker darah di Indonesia sekaligus mengurangi kebutuhan pasien untuk menjalani pengobatan di luar negeri.
Perayaan satu dekade layanan transplantasi sumsum tulang itu dihadiri Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono, jajaran manajemen Rumah Sakit Kanker Dharmais, dokter dan tenaga kesehatan, pasien penyintas, donor, serta keluarga pasien.
Perjalanan satu dekade transplantasi di rumah sakit kanker nasional itu tidak hanya ditandai dengan bertambahnya pengalaman klinis, tetapi juga pengembangan teknologi dan metode transplantasi. Salah satu yang tengah dipersiapkan adalah transplantasi haploidentik, yakni transplantasi dengan donor yang memiliki kecocokan HLA sekitar 50 persen dengan pasien.
Wamenkes Dante Saksono Harbuwono menekankan pentingnya penguatan layanan kanker, khususnya kanker darah, mengingat tingginya beban penyakit kanker di Indonesia.
“Di dalam tulang tersebut ada pabrik yang spesifik yang memproduksi sel-sel darah,” kata Dante dalam sambutannya.
Menurut dia, ketika “pabrik” tersebut mengalami kesalahan dalam menghasilkan sel, gangguan yang ditimbulkan dapat berkembang menjadi penyakit serius. Karena itu, penanganan kanker darah membutuhkan strategi yang komprehensif, termasuk penguatan fasilitas dan kemampuan rumah sakit dalam memberikan terapi definitif.
Beban kanker terus menjadi tantangan
Dante menyebut data kanker 2024 menunjukkan terdapat sekitar 474.000 kasus kanker baru setiap tahun di Indonesia. Angka tersebut menunjukkan besarnya tantangan yang harus dihadapi sistem kesehatan nasional.
Kanker, menurut Dante, bukan semata persoalan statistik. Di balik angka tersebut terdapat pasien yang berasal dari berbagai kelompok usia dan latar belakang, termasuk anak-anak, orang tua, serta anggota keluarga yang harus menghadapi perubahan besar dalam kehidupannya akibat penyakit tersebut.
“Ini bukan sekadar angka statistik. Mereka adalah anak-anak, orang tua, serta saudara-saudara kita yang kehidupannya berubah karena penyakit ini,” ujarnya.
Karena itu, pemerintah bersama rumah sakit dan seluruh pemangku kepentingan perlu memastikan tersedianya strategi penanganan kanker yang semakin kuat, mulai dari deteksi, diagnosis, pengobatan hingga perawatan lanjutan.
Dante mengatakan tantangan tersebut juga harus dijawab melalui penguatan rumah sakit kanker nasional dan pengembangan layanan yang mampu menangani kasus-kasus kompleks di dalam negeri. (red)




