Jakarta, Trivianews.id — Harga minyak mentah dunia mencatat penurunan tajam sepanjang pekan perdagangan 2–6 November 2026. Harapan tercapainya kesepakatan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran mendorong investor mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang harga minyak.
Mengutip laporan Reuters berdasarkan perdagangan Dow Jones Newswires, Jumat (6/11), West Texas Intermediate (WTI) ditutup pada US$90,83 per barel, naik 0,34%. Sementara Brent berakhir di US$98,32 per barel, menguat tipis 0,03%.
Baca juga : Ancaman Rupiah, Dari Perang Hingga Harga Minyak
Meski menguat pada perdagangan terakhir pekan ini, Brent masih mencatat penurunan mingguan sekitar 17%, sedangkan WTI melemah sekitar 13%, menurut laporan Reuters.
Perubahan sentimen dipicu meningkatnya harapan penyelesaian konflik AS-Iran, terutama setelah hasil pemilihan sela Amerika Serikat mengubah peta politik di Kongres.
Dalam laporan Oilprice.com, tekanan harga juga terlihat dari kebijakan Saudi Aramco yang memangkas Official Selling Price (OSP) minyak untuk pasar Asia sebesar US$2 per barel. Harga Arab Light untuk pengiriman Desember ditetapkan dengan diskon US$7 terhadap acuan Dubai/Oman, terendah sejak Juni 2020.
Di sisi lain, ancaman terhadap keamanan pelayaran di Selat Hormuz masih menjadi perhatian. Serangan terhadap kapal tanker dan potensi gangguan distribusi minyak menunjukkan bahwa normalisasi pasokan belum sepenuhnya terjamin.
Uni Emirat Arab tengah mempertimbangkan pembangunan jalur pipa tambahan menuju Fujairah untuk mengurangi ketergantungan distribusi minyak pada Selat Hormuz. Sementara QatarEnergy memperluas strategi diversifikasi pasokan LNG dari Amerika Serikat.
Pasar kini menghadapi dua faktor yang saling berlawanan. Harapan perdamaian dan potensi normalisasi pasokan memberikan tekanan bearish, sementara ancaman terhadap jalur pelayaran masih menyimpan risiko kenaikan harga.
Penurunan mingguan yang tajam menunjukkan bahwa pasar mulai mengantisipasi perdamaian. Namun, selama keamanan pasokan belum pulih, volatilitas masih berpotensi membayangi perdagangan minyak dunia.






