Hari Lingkungan Hidup 2026: Nasib Lebah Hutan Jadi Perhatian

Dok. Istimewa

Jakarta, Trivianews.id-Keberadaan lebah madu hutan dan pohon-pohon hutan tropis menjadi sorotan dalam peluncuran buku Bees and Trees yang digelar PARARA Environment Day bersama NTFP-EP Asia dan Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI), Jumat (5/6).

Peluncuran buku yang bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 itu menyoroti pentingnya menjaga ekosistem hutan di tengah ancaman perubahan iklim dan terus berkurangnya luas hutan hujan Indonesia.

Peneliti Pusat Riset Biologi BRIN, Sih Kahono, mengatakan lebah hutan memiliki hubungan yang sangat erat dengan pohon-pohon di kawasan hutan. Pohon menyediakan nektar, serbuk sari, sekaligus menjadi tempat bersarang bagi lebah.

Sebaliknya, lebah berperan penting dalam proses penyerbukan yang mendukung regenerasi hutan dan keberlangsungan berbagai jenis tumbuhan.

Namun, keberadaan lebah hutan kini menghadapi sejumlah ancaman. Salah satunya adalah alih fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan, terutama kelapa sawit, yang terus berkembang di sejumlah wilayah Sumatera.

“Alih fungsi hutan telah mengurangi habitat dan sumber pakan lebah. Pada saat yang sama, perubahan iklim menyebabkan musim hujan dan kemarau semakin tidak menentu sehingga memengaruhi pola berbunga tanaman pakan dan mengganggu siklus hidup koloni lebah,” kata Sih.

Ia menjelaskan, lebah hutan memiliki pola migrasi yang mengikuti musim. Koloni lebah akan kembali ke lokasi yang sebelumnya menjadi habitat mereka untuk membangun sarang.

Lebah Madu Hutan / Dok. Istimewa

“Koloni lebah ini bermigrasi berdasarkan musim, dan suatu saat mereka akan kembali lagi ke hutan asalnya. Bagaimana bila pada saat mereka kembali hutannya sudah ditebang atau sudah berubah menjadi rumah-rumah?” ujarnya.

Menurut Sih, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa sarang lebah terkadang ditemukan di kawasan permukiman.

“Jadi jangan heran kalau ada sarang lebah di rumah atau di tengah-tengah masyarakat, salah satunya karena itu,” lanjutnya.

Selain alih fungsi lahan dan perubahan iklim, sejumlah bencana alam juga berdampak pada populasi lebah hutan. Di Flores, misalnya, erupsi gunung api merusak banyak pohon yang selama ini menjadi tempat bersarang sekaligus sumber pakan lebah.

Dampaknya, produksi madu hutan ikut menurun. Kondisi tersebut diperparah oleh melemahnya daya beli masyarakat yang menyebabkan permintaan madu hutan ikut berkurang.

Situasi ini tidak hanya mengancam kelestarian lebah dan pohon madu, tetapi juga mata pencaharian masyarakat yang menggantungkan hidup dari hasil hutan bukan kayu tersebut.

*Koperasi Jaga Kelestarian Hutan dan Madu*

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Koperasi Hutan Lestari di Desa Batudulang, Kecamatan Batulanteh, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, menjadi salah satu contoh upaya menjaga keberlanjutan hutan dan madu hutan.

Inisiator Koperasi Hutan Lestari, Junaidi Zain, mengatakan pihaknya berkomitmen menjaga kawasan hutan dengan tidak membuka kebun di area lindung.

“Koperasi Hutan Lestari memiliki izin Hutan Kemasyarakatan (HKm) seluas 1.000 hektare yang berada di kawasan penyangga Hutan Lindung Batu Lanteh. Kami berkomitmen menjaga hutan dengan tidak membuka kebun di kawasan lindung, melainkan hanya memanfaatkan hasil hutan bukan kayu seperti madu, kemiri, kayu manis, dan rotan,” ujarnya.

Menurut Junaidi, koperasi menerapkan standar panen, pengumpulan, hingga pengolahan madu yang menjamin kualitas, asal-usul produk, dan keberlanjutan sumber daya. Upaya tersebut juga didukung rumah produksi yang memenuhi standar keamanan pangan.

Ia menambahkan, pengelolaan yang berkelanjutan membantu menjaga keberadaan lebah, pohon madu, serta berbagai jenis pohon penghasil nektar sehingga masyarakat masih dapat memanen madu hutan secara berkelanjutan.

“Di saat banyak kawasan hutan di Sumbawa telah berubah menjadi kebun jagung dan tidak lagi menghasilkan madu hutan, kami masih bisa mempertahankan praktik panen yang berkelanjutan karena hutan tetap terjaga,” kata Junaidi.

Melalui peluncuran buku Bees and Trees, para pihak berharap masyarakat semakin memahami bahwa keberlangsungan lebah hutan, kelestarian pohon-pohon tropis, dan kesejahteraan masyarakat merupakan satu kesatuan yang saling terkait.

Di tengah ancaman perubahan iklim dan hilangnya hutan hujan Indonesia, menjaga ekosistem hutan dinilai menjadi langkah penting untuk memastikan keberlanjutan kehidupan bagi generasi mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *