TriviaNews.id - Mengalir Dinamis, Mengupas Tuntas
TriviaNews.id - Mengalir Dinamis, Mengupas Tuntas
Ekbis

Jatuhnya Harga Jadi Berkah, Bank Sentral Borong Emas

Avatar photo
6
×

Jatuhnya Harga Jadi Berkah, Bank Sentral Borong Emas

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi cadangan emas pada bank sentral.
Ilustrasi cadangan emas pada bank sentral. (Istimewa)

Jakarta, Trivianews.id –  Jatuhnya harga emas dunia justru menjadi kesempatan bagi sejumlah bank sentral untuk memperbesar cadangan emas mereka. Di tengah tekanan pasar akibat penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, permintaan dari sektor resmi tetap memperlihatkan ketahanan.

China menjadi salah satu pembeli paling agresif. People’s Bank of China (PBOC) menambah cadangan emas sekitar 830.000 troy ounce atau setara 25,8 ton sepanjang Oktober 2026. Dengan penambahan tersebut, China memperpanjang aksi akumulasi emas selama 24 bulan berturut-turut.

Data yang dilaporkan Moneycontrol menunjukkan, total pembelian China selama Januari hingga Oktober 2026 mencapai sekitar 129 ton. Menariknya, peningkatan pembelian justru berlangsung ketika harga emas mengalami tekanan dan sempat turun hampir 7% sepanjang Oktober, bahkan kembali berada di bawah US$4.000 per troy ounce.

Baca juga : Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp5.000, Cek Daftar Harga Lengkapnya!

Langkah China bukan fenomena yang berdiri sendiri. World Gold Council (WGC) mencatat, bank sentral dunia membukukan pembelian bersih 61 ton emas sepanjang September. Angka tersebut menjadi pembelian bulanan tertinggi sepanjang 2026 hingga periode pelaporan tersebut.

Polandia dan China menjadi pembeli utama, disusul Uzbekistan, Kazakhstan, Yordania, Republik Ceko, dan Bolivia. Secara kumulatif, pembelian bersih bank sentral yang dilaporkan sejak awal tahun mencapai 228 ton, meskipun masih 7% lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sebelumnya, pembelian bersih sektor resmi pada kuartal III mencapai 321 ton berdasarkan data WGC yang dikutip Moneycontrol. Angka tersebut merupakan akumulasi kuartalan tertinggi sejak kuartal IV 2024.

Fenomena ini memperlihatkan perbedaan orientasi antara investor jangka pendek dan pengelola cadangan devisa. Ketika pelaku pasar merespons kenaikan suku bunga dan penguatan dolar, bank sentral cenderung melihat emas sebagai instrumen diversifikasi cadangan, perlindungan nilai, sekaligus pengurang ketergantungan terhadap aset keuangan berbasis mata uang tertentu.

Minat pembelian juga terlihat di pasar konsumen. CNBC TV18 melaporkan, transaksi emas saat perayaan Dhanteras di India pada 6 November diperkirakan mencapai 60.000 miliar rupee. Nilai penjualan diperkirakan meningkat 15–20% dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun volume pembelian relatif tidak berubah. Konsumen lebih memilih perhiasan ringan, koin kecil, dan kadar emas yang lebih terjangkau.

Di pasar internasional, emas spot pada penutupan perdagangan Jumat, 6 November, berada di US$4.074,36 per troy ounce. Sementara kontrak berjangka emas Desember ditutup di US$4.074,90, turun 0,9% dalam sehari. Namun, secara mingguan harga emas masih menguat sekitar 5,2%, menjadi kenaikan terbaik sejak Agustus.

Penguatan dolar dan imbal hasil obligasi AS setelah data tenaga kerja Oktober menunjukkan penambahan 165.000 pekerjaan, jauh di atas ekspektasi 59.000, menjadi tekanan jangka pendek bagi emas.

Meski demikian, aksi akumulasi bank sentral memberikan perspektif berbeda. Koreksi harga mungkin mengurangi daya tarik emas bagi spekulan jangka pendek, tetapi bagi sebagian pengelola cadangan negara, penurunan justru menjadi kesempatan memperkuat kepemilikan aset yang tidak bergantung pada janji pembayaran pihak lain.

Pasar boleh melihat koreksi sebagai risiko. Bank sentral tampaknya masih melihatnya sebagai kesempatan.